Oleh: muxin | Agustus 22, 2008

Ibu

Setiap malam, aku terpekur. Aku teringat ibu. Pengakuan-pengakuanku pun bergulir seiring guliran airmata yang merebak membasahi wajah teringat akan segala pengorbanan ibu. Tidak ada yang lebih mencintai daripada ibu. Tidak ada yang pernah menandingi cinta dan pengorbanan ibu.

Sejak kecil, aku merasakan kasih sayang ibu. Tulus, tak bersyarat. teringat selalu dipelupuk mataku, saat usia kecilku, saat ekonomi keluargaku sedang morat-marit, ibu menemani ayah bekerja apa saja untuk kami anak-anaknya. Aku ingat, ibu juga pandai mengatur keuangan keluarga di saat terminim sekalipun.

Ibu juga mengajarkanku membaca jauh sebelum aku masuk bangku sekolah. Ibu juga yang mengajariku bacaan-bacaan do’a sebelum tidur, do’a sebelum makan, do’a masuk dan keluar kamar mandi, sampai do’a ketika bercermin dan ketika mendengar adzan selesai dikumandangkan.

Ibulah yang mengajariku segalanya. Sejak aku kecil, sejak aku bayi. Padahal pada waktu yang bersamaan, ibu pun harus mendidik saudara-saudaraku yang lainnya. Setiap kesabaran dan pengorbanannya tak pernah mengharap imbalan.

Kasih ibu, sepanjang badan. Sayang ibu, sepanjang jalan. Cinta ibu, sepanjang hayat. Sekarang adalah tugas kita sebagai anaknya, untuk selalu membahagiakan ibu. Semoga kita bisa membahagiakan Ibu, meski tak mungkin kami mampu membalas semua jasa dan kasih sayang ibu.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori